Andai
kita bisa lebih melihat apa yang ada dalam diri kita, baik itu
kekurangan, aib kita sendiri, bahkan kelebihan kita dari orang lain.
Kita pasti takkan mungkin disibukkan dengan memperhatikan kekurangan
dan aib orang lain. Sederhana saja. Kebalikannya, jika kita jeli dan
banyak sibuk dengan kekurangan dan aib orang lain, kita pasti akan
sulit meraba dan melihat aib dan kekurangan diri sendiri. Satuju ???
ketika saya melaksanakan shalat jum'at tadi siang, ada rasa yang bercampuran dalam dada (sedih, marah, malu, dan takut). karena orang yang shalat di sebelah kiri saya dia tidak memiliki anggota tubuh yang lengkap, tangan kanan dan kirinya tidak ada, serta badannya pun kerdil.
Sedih : karena saya berpikir, bagaimana jika saya berada di posisinya? apakah saya mampu untuk sabar & menerima keadaan yang seperti itu?
Marah : saya teringat sama orang normal yang berada diluar mesjid, yang masih sibuk dengan hal-hal duniawinya padahal adzan sudah dikumandangkan...
Malu : kita terlalu banyak meminta. terkadang kita suka sibuk meminta kepada-Nya untuk menutupi kekurangan kita dengan kesempurnaan sesuai yang kita harapkan. tanpa sadar kita sudah lebih sempurna dari orang lain.
Takut : “Setiap jiwa bertanggung jawab apa yang diperbuatnya,” demikian arti firman Allah dalam surat Al Muddatsir ayat 38. Apa yang telah saya perbuat oleh kedua tangan ini? mungkin orang yang tidak memiliki tangan, lebih sedikit dosanya dibanding kita yang memilikinya.
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah:155)
“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kalian.” (Muhammad:31)

ketika saya melaksanakan shalat jum'at tadi siang, ada rasa yang bercampuran dalam dada (sedih, marah, malu, dan takut). karena orang yang shalat di sebelah kiri saya dia tidak memiliki anggota tubuh yang lengkap, tangan kanan dan kirinya tidak ada, serta badannya pun kerdil.
Sedih : karena saya berpikir, bagaimana jika saya berada di posisinya? apakah saya mampu untuk sabar & menerima keadaan yang seperti itu?
Marah : saya teringat sama orang normal yang berada diluar mesjid, yang masih sibuk dengan hal-hal duniawinya padahal adzan sudah dikumandangkan...
Malu : kita terlalu banyak meminta. terkadang kita suka sibuk meminta kepada-Nya untuk menutupi kekurangan kita dengan kesempurnaan sesuai yang kita harapkan. tanpa sadar kita sudah lebih sempurna dari orang lain.
Takut : “Setiap jiwa bertanggung jawab apa yang diperbuatnya,” demikian arti firman Allah dalam surat Al Muddatsir ayat 38. Apa yang telah saya perbuat oleh kedua tangan ini? mungkin orang yang tidak memiliki tangan, lebih sedikit dosanya dibanding kita yang memilikinya.
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah:155)
“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kalian.” (Muhammad:31)
Dua
ayat diatas, kita bisa mengetahui tentang cobaan yang Allah berikan,
semata-mata karena Allah ingin memberitahu dan menjadikan kita seseorang
lebih bijak dan bersabar, cobaan itu perlu untuk rohani kita, karena,
bila manusia tidak pernah mengalami cobaan satu kalipun, orang itu sulit
untuk memahami arti hidup.
Banyak dari saudara kita ataupun kita sendiri terlahir dengan kekurangan baik fisik maupun kekurangan rohani,
Kebanyakan
dari kita berfikir bahwa orang-orang tersebut lebih buruk daripada kita
disini, dari hal potensi maupun lainnya, kita merasa lebih unggul,
pernahkan kita berfikir dan merasa bilamana Allah SWT memberikan posisi
mereka kepada kita, tahankah kita? tabahkah kita?, mereka diberi sabar
yang luar biasa dalam menjalankan hidup, belum tentu kita bisa menyamai
kesabaran mereka saat kita berada di posisi mereka.
Di tengah
kekurangan kita, percayalah, Allah menyimpan rahasia yang indah di
tengah kekurangan kita, tinggal bagaimana kita menanggapinya dan
berfikir.
Mari kita berfikir, dengan segala kekurangan yang kita
punyai cobalah kita untuk terus maju dan tidak melihat ke belakang lagi,
karena jika kita menanamkan suatu usaha dengan sungguh-sungguh,
percayalah bahwa Allah akan memberika buah yang manis dari usaha keras
kita,walaupun kekurangan kita menghambatnya.
Pesan dari saya, "Janganlah berfikir negatif dari kekurangan kita, tetapi berfikirlah tentang apa yang bisa kita buat dengan kekurangan kita".
“Hai
orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran
kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan
bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Aali ‘Imraan:200)











0 komentar:
Posting Komentar